MAKALAH
ILMU
BUDAYA DASAR
HASIL
BUDAYA DAN FILOSOFI BUDAYA PADA SUATU DAERAH DI INDONESIA
Makalah ini disusun sebagai hasil dari tugas
kelompok
Disusun
oleh:
1. ArzenicoApta Gustafausta
1. ArzenicoApta Gustafausta
2. Geres
Perbina Br Ginting
3.Agung
Oktiar
4.Khanza
Haiqal Gifary
5.Ryan
Alviandhi Ilyas
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2018
1. Taring
Piring - Minangkabau
Tari Piring adalah tarian
khas Minangkabau yang paling populer. Tak lengkap rasanya jika ada acara yang
dihadiri oleh orang minang, baik di kampung halaman ataupun di rantau, tanpa
penampilan tari piring. Tarian yang berasal dari Solok ini menggunakan piring
sebagai properti utamanya. Kadang, piring sengaja dipecahkan dan penari menari diatas
tumpukan pecahan piring tersebut. Hal ini kemudian menjadi bunga pertunjukan
yang selalu ditunggu-tunggu penonton.
Tarian ini
biasanya ditampilkan sebagai hiburan, meskipun tak jarang juga menjadi pembuka
acara yang dihadiri para tokoh-tokoh minang. Biasanya untuk menarik atensi
penonton. Tari ini biasanya dimainkan oleh perempuan, maupun lelaki dan
perempuan berpasangan dengan kostum dominan berwarna merah.
Asal Usul dan Sejarah Tari Piring
Tari piring
dipercaya telah ada sejak sekitar abad ke 12 Masehi, terlahir dari kebudayaan
asli masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Tarian ini dulunya merupakan
tarian persembahan bagi para dewa yang telah mengkaruniakan hasil panen yang
berlimpah selama setahun. Perlu diketahui bahwa sebelum masuknya Islam, masyarakat
Minangkabau mayoritas masih memeluk agama Hindu, Budha, dan
sebagian Animisme.
Masuknya Islam ke
tanah Sumatera pada abad ke 14 secara tidak langsung ikut mempengaruhi
perkembangan tari piring. Semenjak ajaran Islam mulai dianut oleh mayoritas
masyarakat, peruntukan tari piring pun berubah. Tari piring bukan lagi
ditujukan sebagai tari persembahan bagi para dewa, melainkan hanya sebagai
tontonan bagi masyarakat. Tarian ini dipertunjukan setiap kali ada acara
hajatan sebagai hiburan semata.
Dalam perjalanan
sejarahnya, tari piring kontemporer mengalami banyak pembaruan, mulai dari
musik yang mengiringinya, gerakan, koreografi, hingga komposisi pemain. Adalah Huriman Adam, seorang seniman
tanah Minang yang telah berkontribusi besar pada kepopuleran tari ini di masa kini.
Pencipta Tari Piring
Tarian
ini diciptakan oleh seniman bernama Huriah Adam. Beliau merupakan seniman yang
cukup masyhur dan berasal dari tanah Minangkabau. Seniman ini telah banyak
melakukan inovasi terhadap gerakan tari piring. Beliau sendiri memiliki
dedikasi yang cukup besar dalam menjaga tarian tradisional di Indonesia. Pada
akhir hayat beliau cukup disayangkan, seniman ini meninggalkan dalam insiden
kecelakaan pesawat. Namun, jasanya terhadap budaya seni tari akan tetap
diingat.
Gerakan Tari Piring
Berbagai gerakan dalam Tari Piring
adalah perpaduan yang laras antara seni tari yang indah, gerakan akrobatis, dan
gerakan bermakna magis. Gerakan tarian yang dibawakan secara berkelompok oleh
3-5 personil ini sangat beragam. Gerakan-gerakan tersebut secara keseluruhan
sebetulnya menceritakan tentang tahapan-tahapan kegiatan dalam budidaya tanaman
padi yang menjadi mata pencaharian masyarakat adat Minang tempo dulu.
Sedikitnya ada
20 gerakan tari piring yang harus dibawakan para penari untuk dapat
mempertunjukan tari piring yang sempurna. Keduapuluh gerakan tersebut antara
lain:
1. Gerak pasambahan; gerakan yang dibawakan oleh para
penari pria ini adalah gerakan pembuka tari piring. Gerakan ini memiliki makna
sebagai wujud syukur kepada Allah swt dan bentuk permohonan penari pada para
penonton yang menyaksikan, supaya tidak merusak jalannya pertunjukan.
2. Gerak singanjuo lalai; gerakan yang dibawakan oleh
para penari wanita ini sangat lemah lembut melambangkan suasana pagi yang
sejuk.
3. Gerak mencangkul; gerakan tari piring yang
menceritakan sekumpulan petani yang tengah mengolah tanah sawahnya.
4. Gerak menyiang; gerakan ini menceritakan aktivitas
para petani saat tengah menyiangi atau membersihkan rerumputan di sawah mereka.
5. Gerak membuang sampah; gerakan ini menceritakan
kegiatan para petani yang tengah membuang sisa-sisa sampah hasil menyiangi yang
ia lakukan sebelumnya.
6. Gerak menyemai; gerakan ini menceritakan para petani
yang tengah menyemai benih padi yang akan ditanam.
Selain keenam
gerakan tersebut, ada 14 gerakan lain yang harus dilakukan oleh para penari.
Gerakan-gerakan tersebut antara lain gerak memagar, gerak mencabut benih,
gerak bertanam, gerak melepas lelah, gerak mengantar juadah, gerak menyabit
padi, gerak mengambil padi, gerak manggampo padi, gerak menganginkan padi,
gerak mengirik padi, gerak menumbuk padi, gotong royong, gerak menampih padi,
dan gerak menginjak pecahan kaca.
Iringan Musik Tari Piring
Keduapuluh gerakan tari
piring di atas dilakukan dengan tempo cepat dengan diiringi iringan musik
berirama syahdu yang menggambarkan rasa kebersamaan, kegembiraan, dan
semangat.
Iringan musik dalam tari
piring sendiri berasal dari 2 alat musik, yaitu talempong dan saluang.
Talempong adalah alat musik pukul yang terbuat dari kayu, kuningan, atau batu.
Bentuknya mirip seperti bonang, sedangkan saluang adalah alat musik tiup yang terbuat
dari bambu tipis mirip seperti suling. Selain dengan iringan kedua alat musik
tersebut, tari piring juga diiringi dengan suara gemerincing cincin yang
dikenakan para penarinya.
Kostum Penari Piring
Ketika menari, para penari wajib mengenakan kostum khusus. Kostum tari piring untuk pria dan wanita ini dijelaskan seperti pada tabel berikut.
Ketika menari, para penari wajib mengenakan kostum khusus. Kostum tari piring untuk pria dan wanita ini dijelaskan seperti pada tabel berikut.
Kostum Penari Pria
|
|
|
|
|
|
Kostum Penari Wanita
|
|
|
|
|
|
Properti Tari Piring
Beberapa properti yang harus ada dalam menyelenggarakan seni tari piring sebagai berikut:
Beberapa properti yang harus ada dalam menyelenggarakan seni tari piring sebagai berikut:
1.
Mangkok atau Piring
Piring menjadi properti utama untuk bisa menyelenggarakan seni tari ini.
Selain itu, gerakan-gerakan tarinya juga menggunakan piring sebagai objek
utama.
2.
Selendang
Perlengkapan ini menjadi ciri busana yang dipakai oleh penari.
3.
Busana
Busana atau pakaian menjadi penanda asal muasal tarian tersebut. Seperti
pakaian Minangkabau yang memiliki ciri yang membedakan dengan pakaian adat yang
lain.
4.
Ikat Pinggang
Masih bagian dari busana, ikat pinggang menjadi ciri yang khas dengan
warna kuning keemasan.
5.
Alat Musik Tradisional
Dalam tarian ini perlu juga adanya irama suara yang mengiringinya.
Beberapa alat musik tradisional yang biasanya mengiringi tari piring adalah
Saluang, Saruni, Rabab, Bansi dan masih ada lainnya.
2. Batik
Parang - Solo
Batik Parang merupakan salah
satu motif batik yang paling tua di Indonesia. Parang berasal dari kata Pereng
yang berarti lereng. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke
rendah secara diagonal. Susunan motif S jalin-menjalin tidak terputus
melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S diambil dari ombak samudra
yang menggambarkan semangat yang tidak pernah padam. Batik ini merupakan batik
asli Indonesia yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo).
Makna Batik Parang
Batik Parang memiliki makna yang tinggi dan mempunyai nilai yang besar dalam filosofinya. Batik motif dari Jawa ini adalah batik motif dasar yang paling tua. Batik parang ini memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik Parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.
Batik Parang memiliki makna yang tinggi dan mempunyai nilai yang besar dalam filosofinya. Batik motif dari Jawa ini adalah batik motif dasar yang paling tua. Batik parang ini memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik Parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.
Batik Parang bahkan menggambarkan kain yang belum rusak, baik dalam arti memperbaiki diri, kesejahteraan upaya mereka, serta bentuk hubungan dimana batik parang pada masa lalu adalah hadiah yang mulia untuk anak-anaknya. Dalam konteks ini, pola berisi dewan orang tua untuk melanjutkan perjuangan parang dilanjutkan. Garis diagonal lurus melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai yang sebenarnya. Dinamika dalam pola parang ini juga disebut ketangkasan, kewaspadaan, dan kontituinitas antara pekerja dengan pekerja lain. Batik Parang biasanya digunakan untuk acara pembukaan. Misalnya: Senapati yang ingin pergi berperang, agar pulang membawa kemenangan.
"Batik artinya Bakti, Bekti, Dhama bakti, para raja ksatria jawa harus berbakti kepada nusa bangsa keluarga dan agama nya. Ageman dari Batik menjadi agama nya , ucap tekat laku lampah seorang menuju sampurna '" (Syafril Indra Kusuma)
JENIS-JENIS BATIK PARANG
Adapun jenis-jenis batik parang
dibawah ini, yaitu:
1.Parang Rusak
Motif ini merupakan motif batik
yang diciptakan Penembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Motif batik
ini terinspirasi dari ombak yang tidak pernah lelah menghantam karang pantai.
Motif ini melambangkan manusia yang internal melawan kejahatan dengan
mengendalikan keinginan mereka sehingga mereka bijaksana, watak mulia karakter
yang akan menang.
2.
Parang Barong.
Motif ini merupakan motif yang
mempunyai ukuran yang lebih besar dari parang rusak, yang diciptakan oleh
Sultan Agung Hanyakrakusuma. Motif ini memiliki makna pengendalian diri dalam
dinamika usaha yang terus-menerus, kebijaksanaan dalam gerak, dan kehati-hatian
dalam bertindak.
3.
Parang Klitik.
Motif ini merupakan pola parang
dengan stilasi yang halus. ukurannya pun lebih kecil dan juga menggambarkan
citra feminim, Motif ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan
bijaksana. Biasanya digunakan oleh para puteri raja.
4.
Parang Slobog.
Motif ini melambangkan
keteguhan, ketelitian dan kesabaran, dan biasanya digunakan dalam upacara
pelantikan. Motif ini mempunyai makna harapan agar pemimpin yang dilantik dapat
mengemban dan menjalankan tugasnya dengan amanah disertai kebijaksanaan dalam
diri.
3. Rumah
Adat Karo – Sumatra Utara
|
|
perkampungan suku Karo yang masih asli
(karo-news.blogspot.com) |
Suku Karo merupakan
salah satu suku tertua di Indonesia. Beberapa peninggalan suku Karo sejak
berabad-abad yang lalu, masih bisa ditemukan di daerah Taneh Karo, yaitu berupa
rumah-rumah adat tradisional suku Karo.
Beberapa rumah adat ternyata sudah sangat tua
sekali. Memiliki kesan mistis tapi memiliki daya tarik yang khas bagi setiap
orang yang melihatnya.
Rumah adat suku
Karo, sebagai Gerga adalah tempat tinggal sang Raja yang penuh dengan
motif ukiran penuh makna. Rumah adat Karo yang paling populer adalah rumah
adat Si Waluh Jabu.
Sebenarnya Rumah Adat Karo, terdapat beberapa
jenis, yaitu:
·
Gerga, adalah tempat tinggal sang Raja yang
penuh dengan motif ukiran penuh makna.
·
Belang Ayo, memiliki bentuk yang mirip dengan
Gerga, sehingga kadang Belang Ayo dianggap sama dengan Gerga.
·
Si Waluh Jabu, artinya "delapan
rumah" atau makna sebenarnya berarti "delapan keluarga" dalam
satu kekerabatan. Rumah adat Si Waluh Jabu adalah nama lain dari Gerga atau
Belang Ayo. Rumah adat Si Waluh Jabu ini yang paling banyak masih bisa ditemui
di beberapa wilayah adat Taneh Karo.
·
Sepulu Jabu, artinya dalam satu rumah terdiri
dari 10 keluarga dalam satu kekerabatan. Berukuran lebih besar dari Si Waluh
Jabu.
·
Sepulu Dua Jabu, di dalamnya terdapat 12 keluarga
dalam satu kekerabatan. Tidak memiliki kamar seperti Rumah Adat Si Waluh Jabu
dan Sepuluh Jabu.
·
Sepulu Enem Jabu, mungkin merupakan Rumah Adat
tertinggi di Indonesia. Di huni oleh 16 keluarga dalam satu kekerabatan. Karena
Sepuluenem Jabu ini adalah Rumah Adat Karo yang terbesar, kemungkinan
Sepuluenem Jabu ini bisa saja merupakan suatu Istana Kerajaan orang Karo yang
dihuni oleh para keluarga Kerajaan di masa lalu.
·
Si Enem Jabu, rumah adat yang berukuran lebih
kecil dari si Waluh Jabu, dan dihuni oleh 6 keluarga dalam satu kekerabatan.
·
Si Empat Jabu, rumah adat yang berukuran paling
kecil, dan dihuni oleh 4 keluarga dalam satu kekerabatan.
·
Jambur, adalah suatu Balai Pertemuan Adat.
Bangunan berbentuk rumah adat Karo dengan atap ijuk, merupakan tempat
pelaksanaan acara-acara adat (adat perkawinan, adat dukacita) dan
kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Jambur juga digunakan untuk tempat anak
muda tidur. Para pemuda bertanggung jawab atas keamanan kampung mereka. Para
pemuda tidak pantas tidur bersama orangtuanya dalam satu kelambu yang
disekat-sekat dan sempit. Oleh karena itu para pemuda tidur di Jambur. Selain
itu Jambur juga menjadi sarana bagi pemuda desa lain menginap jika kemalaman
dalam perjalanan, atau pemuda yang datang bertandang untuk melihat pujaan
hatinya yang disebut naki-naki.
·
Griten (Geriten), bangunan adat tempat menyimpan
tengkorak keluarga yang telah meninggal. Terdiri dari 2 tingkat dan berbentuk
panggung, berdiri di atas tiang penyangga bangunan.
·
Sapo Page, artinya lumbung padi. Bentuk seperti
rumah adat. Berada di halaman depan rumah adat. Sama dengan Geriten, Sapo Page
terdiri dari dua tingkat dan berdiri di atas tiang. Lantai bawah tidak
berdinding. Ruang ini digunakan untuk tempat duduk-duduk, beristirahat dan
sebagai ruang tamu. Lantai bagian atas berfungsi untuk menyimpan padi.
·
Lesung, juga digunakan sebagai lumbung padi.
·
Keben, digunakan untuk penyimpanan beras,
merupakan bagian penting dari budaya Karo, karena beras merupakan tingkat
status yang menunjukkan kekayaan seseorang.
|
|
Gerga, Belang Ayo
(http://wisata.kompasiana.com) |
|
|
Sepulu Enem Jabu (Collectie Tropen Museum, Netherland) |
|
Gerga, Si Waluh Jabu (eragambarrumahadatkaroterkinilingga. blogspot.com) |
|
|
Sapo Page
(era-gambarrumahadatkaroterkinilingga. blogspot.com) |
Rumah adat Karo, seperti juga
rumah adat Toba, Mandailing, Simalungun, Dairi dan Pakpak, tidak memiliki
kamar-kamar. Rata-rata rumah adat dari klan Batak ini, dapur tempat memasak
berada di tengah rumah. Semua rumah-rumah adat ini adalah rumah panggung dengan
falsafah masing-masing pula.
Rumah adat Karo yang berada di daerah pegunungan dengan udara yang dingin, dapur di tengah rumah memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain menerangi bagian rumah, juga memberikan kehangatan bagi seluruh keluarga.
Rumah Adat Si Waluh Jabu paling mudah ditemui, karena peninggalannya masih bisa ditemui tersebar di beberapa wilayah tanah adat Karo, sedangkan Rumah Adat Sepulu Jabu dan Sepulu Dua Jabu, sudah sangat susah ditemui.
Rumah adat Sepulu Dua Jabu, tidak memiliki kamar, tapi ada aturan agar tiap-tiap keluarga menjaga sopan santun dan adat istiadat yang kuat.
Rumah adat Karo yang berada di daerah pegunungan dengan udara yang dingin, dapur di tengah rumah memiliki fungsi dan makna tersendiri. Selain menerangi bagian rumah, juga memberikan kehangatan bagi seluruh keluarga.
Rumah Adat Si Waluh Jabu paling mudah ditemui, karena peninggalannya masih bisa ditemui tersebar di beberapa wilayah tanah adat Karo, sedangkan Rumah Adat Sepulu Jabu dan Sepulu Dua Jabu, sudah sangat susah ditemui.
Rumah adat Sepulu Dua Jabu, tidak memiliki kamar, tapi ada aturan agar tiap-tiap keluarga menjaga sopan santun dan adat istiadat yang kuat.
Rumah Adat Karo, seluruhnya berbentuk panggung,
dibangun dengan tonggak penyangga bangunan. Atap rumah agak lancip dan dipenuhi
ukiran. Semua ukiran memiliki makna sendiri-sendiri. Besar bangunan sekitar dua
kali lapangan volley. Atap dilapisi daun ijuk, yang pada beberapa bangunan yang
tua sudah ditumbuhi lumut hijau. Bubungan atap yang menghadap ke Barat bterdapat
tanduk kerbau jantan yang menjulang dengan gagah (merupakan ciri khas bangsa
tua budaya Dong Son). Sedangkan bubungan atap yang menghadap ke Timur terdapat
tanduk kerbau betina. Satu mitos orang Karo mengatakan bahwa kedua tanduk itu
merupakan tanda penolak bala, yang menyerang dari Timur dan Barat.
Di dalam ruangan
rumah adat, tidak ada lampu yang menerangi, terkesan gelap dan angker. Beberapa
tiang penyangga ruangan berukuran besar berada di dalam ruangan.
Di dalam ruangan di
sebelah kiri dan kanan, terdapat 5 hingga 8 ruangan yang merupakan rumah-rumah
tempat tinggal setiap keluarga (KK). Jadi, di dalam ruangan rumah adat terdapat
beberapa rumah lagi (hal ini menunjukkan bahwa suatu rumah adat merupakan wadah
bagi beberapa keluarga yang tinggal dalam satu rumah, lebih tepat merupakan
suatu kampung kecil dalam satu bangunan rumah adat). Masing-masing rumah
yang berada di dalam rumah adat memiliki ukuran luas sekitar 6m. Menurut cerita, dulunya dalam
suatu rumah adat terdapat 8 hingga 16 keluarga dalam satu rumah adat.
Para (tungku
memasak), berada di antara 2 rumah berbentuk petak. Di atas para, terdapat
tempat menyimpan kayu bakar, yang digantung di atas tempat semacam plafon. Dua
keluarga harus berbagi jatah memasak. Dalam satu rumah adat hanya ada
5 para.
Dinding rumah
terdapat ukiran 5 warna, dengan motif saling kait, yang masing-masing warna
pastilah memiliki makna sendiri, yang sayangnya tidak diketahui secara pasti
tentang makna tersebut. Menurut penuturan warga Karo, hanya tinggal para orang
tua lanjut usia saja yang paham mengenai makna 5 warna tersebut.
Menurut seorang warga Karo, bahwa 5 warna ukiran tersebut melambangkan keakraban dan kekerabatan antara 5 marga besar dalam suku Batak Karo, yang saling bersaudara, yaitu:
Menurut seorang warga Karo, bahwa 5 warna ukiran tersebut melambangkan keakraban dan kekerabatan antara 5 marga besar dalam suku Batak Karo, yang saling bersaudara, yaitu:
·
warna Merah adalah simbol marga Ginting
·
warna Hitam, milik marga Sembiring
·
warna Putih, milik marga Siangin-Angin
(Peranginangin)
·
warna Biru, milik marga Tarigan
·
warna Kuning Keemasan, milik marga Karo-Karo.
Konsep rumah adat
Karo ini oleh para arsitek di masa awal pembangunan rumah adat ini sangat
lengkap, sampai memikirkan kekuatan bangunan, sehingga apabila terjadi gempa
rumah adat akan tetap berdiri kokoh. Palas(antara batu pondasi dan tiang
kayu penyangga rumah), dilapisi batang ijuk, yang berfungsi meredam getaran
akibat gempa, rumah akan mengikuti arah getaran gempa.
Di masa lalu, dalam membangun rumah adat harus dilakukan dengan ritual panjang. Kayu bahan bangunan dipilih seizin sang dukun. Mereka memilih kayu dari hutan, memotong-motong dan dibawa ke hadapan sang dukun. Oleh sang dukun, kayu-kayu tersebut didoakan, dimimpikan, untuk kemudian dipilih kayu mana yang boleh digunakan. Pemilihan kayu harus tepat, karena apabila salah memilih kayu, maka diyakini akan membawa bencana.
Jenis kayu yang boleh dipakai untuk membangun, hanya boleh dari 3 jenis saja, yaitu:
·
kayu Ndrasi, diyakini menjauhkan keluarga yang
tinggal di rumah tersebut tidak mendapat sakit.
·
kayu Ambartuah, dipakai supaya mereka diberi
tuah, ataupun kesejahteraan hidup.
·
kayu Sibernaik, dipakai untuk mendoakan kemudahan
rezeki.
Di dalam rumah adat, terdapat banyak aturan dan
pantangan adat yang harus dipatuhi oleh setiap keluarga yang tinggal di dalam
rumah adat. Bicara tidak boleh sembarangan, tidak boleh duduk di tengah
ruangan, tidak boleh duduk di tungku, karena tungku adalah tempat untuk memasak
dan lain-lain.
Masing-masing keluarga dalam rumah adat menjaga keluarga masing-masing, tidak saling mengganggu. Seperti memasak, melakukan sesatu, bahkan melintasi sudut-sudut milik keluarga lainnya. Terlebih laki-laki, jika mereka melintasi kawasan keluarga lainnya, pandangannya harus tetap terjaga memandang ke depan. Mata tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan, apalagi sampai menoleh ke sekat-sekat wilayah keluarga lain. Dia hanya boleh melihat ke wilayah dimana dia tinggal.
Tutur kata, cara berbicara harus tetap terjaga. Terlebih malam hari, karena jangan sampai mengganggu privacy tetangga. Hampir semua aturan tinggal di rumah adat Karo tidak tertulis, namun ditaati, sebagai sebuah aturan adat istiadat yang harus dijunjung tinggi.
Semisal, jika anak kandung kita meninggal dunia, kita masih boleh tinggal di rumah adat. Tapi bila istri kita meninggal dunia, kita harus pindah tidur ke Jambur, karena seorang duda tidak boleh tinggal di dalam rumah adat.
Jika isteri kita meninggal dunia dan kita wajib tidur di Jambur, maka ada kata-kata ”suin anak kalake mate asang anakta” yang berarti "lebih sakit kematian anak orang lain dari pada kematian anak kandung sendiri".
Jika kematian anak kandung, kita masih boleh tinggal di dalam rumah adat. Tapi jika isteri kita (anak orang lain) yang meninggal dunia, maka kita harus keluar dari rumah adat dan bergabung dengan pemuda di jambur. Seluruh aturan harus dipatuhi, untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
Karena banyaknya pantangan yang harus dipatuhi, sehingga lama kelamaan banyak yang pergi meninggalkan Rumah Adat dan memilih menetap di rumah biasa. Sehingga hal ini dikhawatirkan Rumah-Rumah Adat Karo yang banyak meninggalkan sejarah akan menghilang akibat tidak terawat ditinggal penghuninya.
Masing-masing keluarga dalam rumah adat menjaga keluarga masing-masing, tidak saling mengganggu. Seperti memasak, melakukan sesatu, bahkan melintasi sudut-sudut milik keluarga lainnya. Terlebih laki-laki, jika mereka melintasi kawasan keluarga lainnya, pandangannya harus tetap terjaga memandang ke depan. Mata tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan, apalagi sampai menoleh ke sekat-sekat wilayah keluarga lain. Dia hanya boleh melihat ke wilayah dimana dia tinggal.
Tutur kata, cara berbicara harus tetap terjaga. Terlebih malam hari, karena jangan sampai mengganggu privacy tetangga. Hampir semua aturan tinggal di rumah adat Karo tidak tertulis, namun ditaati, sebagai sebuah aturan adat istiadat yang harus dijunjung tinggi.
Semisal, jika anak kandung kita meninggal dunia, kita masih boleh tinggal di rumah adat. Tapi bila istri kita meninggal dunia, kita harus pindah tidur ke Jambur, karena seorang duda tidak boleh tinggal di dalam rumah adat.
Jika isteri kita meninggal dunia dan kita wajib tidur di Jambur, maka ada kata-kata ”suin anak kalake mate asang anakta” yang berarti "lebih sakit kematian anak orang lain dari pada kematian anak kandung sendiri".
Jika kematian anak kandung, kita masih boleh tinggal di dalam rumah adat. Tapi jika isteri kita (anak orang lain) yang meninggal dunia, maka kita harus keluar dari rumah adat dan bergabung dengan pemuda di jambur. Seluruh aturan harus dipatuhi, untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
Karena banyaknya pantangan yang harus dipatuhi, sehingga lama kelamaan banyak yang pergi meninggalkan Rumah Adat dan memilih menetap di rumah biasa. Sehingga hal ini dikhawatirkan Rumah-Rumah Adat Karo yang banyak meninggalkan sejarah akan menghilang akibat tidak terawat ditinggal penghuninya.
4.Hubungan Ogoh-ogoh dengan Hari
Raya Nyepi
·
Awal
Mula Munculnya Ogoh-Ogoh
Banyaknya versi yang beredar di masyarakat Bali yang menjelaskan tentang
awal mula munculnya ogoh-ogoh. Agak sulit sebetulnya menentukan kapan awal mula
ogoh-ogoh muncul. Namun, diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak
jaman Dalem Balingkang. Pada saat itu ogoh-ogoh digunakan
pada saat upacara Pitra Yadnya. Pitra Yadnya adalah upacara pemujaan yang
ditujukan kepada para pitara dan kepada roh-roh leluhur umat Hindu yang telah
meninggal dunia.
Namun ada pendapat lain yang menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi
dari Tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat
Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang
merupakan perwujudan dari Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei (pasangan
suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali)
merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Informasi
lain juga menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70 – 80-an. Ada juga
pendapat yang menyatakan ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para
pengerajin patung yang telah merasa jenuh membuat patung yang berbahan dasar
batu padas, batu atau kayu, namun di sisi lain mereka ingin menunjukan
kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu
patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan
dipertunjukan.
–
·
Bentuk
Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh
sendiri memiliki peranan sebagai simbol prosesi penetralisiran
kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam). Ogoh-ogoh yang
dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta Kala yakni perwujudan
makhluk yang besar dan menyeramkan.
Pada awal mula diciptakannya, ogoh-ogoh dibuat dari rangka kayu dan
bambu sederhana. Rangka tersebut dibentuk lalu dibungkus kertas. Pada
perkembangan jaman yang maju pesat, ogoh-ogoh pun terimbas dampaknya. Ogoh-ogoh
makin berinovasi, dibuat dengan rangka dari besi yang dirangkaikan dengan bambu
yang dianyam. Pembungkus badan ogoh-ogoh pun diganti dengan gabus atau stereofoam dengan teknik pengecatan.
Tema
ogoh-ogoh pun semakin bervariasi, dari tema pewayangan, modern, porno sampai
politik yang tidak mencerminkan makna agama. Tema ogoh-ogoh yang diharapkan
adalah sesuai dengan nilai agama Hindu yaitu tidak terlepas dari Tuhan, Manusia
dan Buta Kala sebagai penyeimbang hubugan ketiganya.
Ogoh-ogoh
simbol Kala ini haruslah sesuai dengan sastra agama yang diatur dalam pakem. Tapi
dari sudut pandang lain mengatakan ogoh-ogoh itu merupakan kreativitas anak
muda yang mengeksploitasi bentuk gejala alam dan fenomena sosial yang terjadi
di masyarakat saat ini jadi tidak perlu adanya pembatasan ataupun pengekangan
dalam berekspresi.
–
·
Makna
Yang Terkandung Dalam Pawai Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh
merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Tradisi ini
mengingatkan masyarakat Bali khususnya. Selain itu, ogoh-ogoh diarak keliling
desa bertujuan agar kekuatan negatif yang ada di sekitar desa agar ikut bersama
ogoh-ogoh. Ritual meminum arak bagi orang yang mengarak ogoh-ogoh di anggap
sebagai perwakilan dari sifat buruk yang ada di dalam diri manusia. Beban dari
berat yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan
sifat-sifat raksasa, ketika manusia menyadari hal ini.
Akhir
pengarakan ogoh-ogoh, masyarakat akan membakar figur raksasa ini, boleh jadi
dikatakan membakar (membiarkan terbakar habis) sifat-sifat yang seperti si
raksasa. Ketika semua beban akan sifat-sifat negatif yang selama ini mengambil
(memboroskan) begitu banyak energi kehidupan seseorang, maka seseorang akan
siap memulai sebuah saat yang baru. Ketika segalanya menjadi hening, masyarakat
diajak untuk siap memasuki dan memaknai Nyepi dengan sebuah daya hidup yang
sepenuhnya baru dan berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya bagi
dirinya dan segenap semesta.
–
·
Definisi
Ogoh-Ogoh
Jika dilihat dari aspek tertentu ogoh-ogoh memiliki beberapa definisi.
Bagi orang awam ogoh–ogoh adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa pada
saat menjelang malam sebelum hari raya Nyepi (Pengrupukan) yang diiringi dengan
gamelan Bali yang disebut Baleganjur , kemudian untuk dibakar. Menurut
Wilkipedia bahasa Indonesia, “Ogoh-ogoh adalah seni patung
dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Khala.”
Para cendekiawan Hindu mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan
ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu
yang maha dahsyat. Kekuatan itu dapat dibagi dua, pertama kekuatan Bhuana Agung, yang artinya kekuatan alam raya, dan
kedua adalah kekuatan Bhuana Alit yang
berarti kekuatan dalam diri manusia. Kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk
menghancurkan atau membuat dunia bertambah indah.
–
·
Upacara
Melasti dan Caru Tawur Kesanga
Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi.
Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: “….manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata.”
Di
Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau
pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib
dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara
dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah
upacara melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke
Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk, dilakukan nyejer dan selama itu umat
melakukan persembahyangan.
Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti,
pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju
laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang
upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan
nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan
desa yang dilaluinya.
Dalam
rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berdasarkan wilayah adalah
sebagai berikut : di ibukota provinsi dilakukan Upacara Tawur, di tingkat
kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud, di tingkat kecamatan dilakukan Upacara
Caru Panca Sanak, di tingkat desa dilakukan upacara Caru Panca Sata, dan di
tingkat banjar dilakukan upacara Caru Eka Sata.
Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar
merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding,
segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah,
dipancangkanlah sanggah cucuk dan di situ umat
menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan,
tumpeng ketan sesayut, penyeneng, jangan-jangan serta
perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak
tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan
agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan
tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar. Setelah usai menghaturkan
pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih
bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman
rumah.
Upacara Bhuta Yadnya di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan,
dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00 (kala tepet).
Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah
tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan
ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi
rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan
banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa
obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh
yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu
kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini merupakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu
unsur-unsur kekuatan jahat.
–
·
Kaitan
Hari Raya Nyepi dan Pawai Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara
Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda
yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni
sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya
Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut.
Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan
bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta
Kala.
Karena
bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta
tidak mengganggu ketertiban dan keamanan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan
sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan.
Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu
memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh
sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya
yang tinggi dan dijiwai Agama Hindu.
Nah,
lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di
luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan
tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan
Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di
Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin
khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.
Sebagaimana
telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada
menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:
- Amati
geni (tidak menyalakan api termasuk memasak).
Itu berarti melakukan upawasa(puasa).
- Amati
karya (tidak bekerja), menyepikan indria.
- Amati
lelungan (tidak bepergian).
- Amati
lelanguan (tidak mencari hiburan).
Pada
prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan
budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis
sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki
kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi
itu.
Yang terpenting, Nyepi dirayakan
dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang
tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan
melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju
jalan yang benar atau dharma. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar
spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.
Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum
selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya
kembali suci. Mona artinya berdiam diri,
tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu
melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa
di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi
seperti itu tentunya harus dilaksanakan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan
tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada
perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu
ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.
–
Kesimpulan
Pada
hakekat hubungan hari raya Nyepi dengan Ogoh-ogoh sebenarnya tidak ada
kaitannya sama sekali, sudah di jelaskan bahwa dari lontar manapun Ogoh-ogoh
tidak mutlak harus di buat sebagai sarana upacara pada saat hari raya
Pengrupukan.
Ogoh-ogoh
baru muncul pada awal tahun 70 – 80-an karena adanya spontanitas dari
masyarakat dan kalangan remaja umat Hindu cetusan dari rasa semarak untuk
memeriahkan upacara pengerupukan, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada
dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap
kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang
melambangkan Bhuta Kala dan juga jangan sampai menyinggung perasaan pihak-pihak
tertentu.
Ogoh-ogoh
itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan
keamanan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri
hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki
tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara.
Ogoh-ogoh
yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan
landasan konsep seni budaya yang tinggi yang dijiwai agama Hindu apalagi di era
globalisasi ini. Ogoh-ogoh di jadikan sebagai sarana untuk menarik wisatawan
mancanegara untuk datang ke Bali melihat pertunjukan arak-arakan Ogoh-ogoh
sehingga dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat Bali.
myang melambangkan
sifat ketakwaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Senjata tradisional yang digunakan oleh masyarakat suku
di Papua ini merupakan berbagai macam alat tradisional yang berfungsi sebagai
perlindungan dari serangan binatang buas yang ada di hutan.
Fungsi lain dari senjata tradisional ini adalah
untuk memburu hewan di hutan uantuk dijadikan makanan. begitu juga untuk fungsi
melindungi diri dari serangan musuh jika sedang berada dalam hutan. Seperti
yang tadi disebutkan sekilas ada beberapa senjata tradisional Papua yang
digunakan, berikut adalah senjata adat Papua beserta penjelasannya.
1. Senjata tradisional
Papua Panah dan Tombak
Senjata yang sering digunakan oleh masyarakat suku
Papua adalah tombak untuk memburu hewan. senjata ini digunakan untuk melakukan
serangan kepada hewan dari jarak yang jauh. tombak Papua ini terbuat dari kayu
dan batu yang ujungnya sangat tajam, selain itu terkadang ujung tajam ini
menggunakan tulang.
Karena zaman sudah semakin berkembang maka mata tombak sekarang banyak
yang terbuat dari logam. Yang unik dari senjata adat Papua ini adalah di mata
tombak dapat diberikan racun yang sangat mematikan yang dapat digunakan untuk
melumpuhkan musuhnya.
2. Senjata tradisional Papua barat
Untuk
senjata di daerah suku di Papua barat ini biasanya mengggunakan bususr dan anak
panah. Senjata ini merupakan senjata utama yang digunakan oleh masyarakat Papua
barat. Untuk manfaat dari senjata tradisional ni adalah dapat menangkap hewan
buruan dan juga dapat berperang dengan musuh.
Sama halnya seperti pada mata tombak, ujung mata
panah ini dapat diberi racun yang mematikan. Untuk bahan dasar pembuatannya,
busur dan panah ini terbuat dari tiga macam bahan dasar yaitu bahan seperti
kayu, bambu, dan tulang yang diruncingkan.
3. Senjata Tradisional
Papua Pisau belati
Pisau belati miliki suku di Papua inisangat berbeda
dengan pisau yang kita miliki di rumah, dimana pisau ini hanya terdapat di
daerah Papua saja. Bahan dasar untuk membuat pisau iniadalah tulang burung
kasuari.
Sebelum melakukan perburuan dengan menggunakan
pisau belati ini, maka pisau ini terlebih daulu harus di oleskan dengan racun sehingga
akan memudahkan dalam perburuan.
Itulah beberapa senjata tradisional asal Papua,
masih banyak lagi adat lain yang ada di Papua seperti tarian tradisional Papua,
atau rumah adat Papua.
Daftar Pustaka:

















