V-Class

Senin, 19 November 2018

Manusia dan Keindahan


PENGERTIAN MANUSIA
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologisrohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

PENGERTIAN KEINDAHAN
Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" [1] adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya

HUBUNGAN MANUSIA DAN KEINDAHAN

Hubungan manusia dan keindahan adalah karena manusia memiliki lima komponen yang secara otomatis dimiliki ketika manusia tesebut dilahirkan. Ke-lima komponen tersebut adalah nafsu, akal, hati, ruh, dan sirri (rahasia ilahi). Dengan modal yang telah diberikan kepada manusia itulah (nafsu, akal dan hati) akhirnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan sesuatu yang disebut dengan keindahan. Dengan akal, manusia memiliki keinginan-keinginan yang menyenangkan (walaupun hanya untuk dirinya sendiri) dalam ruang renungnya, dengn akal pikiran manusia melakukan kontemplasi komprehensif guna mencari niolai-nilai, makna, manfaat, dan tujuan dari suatu penciptaan yang endingnya pada kepuasan, dimana kepuasan ini juga merupakan salah satu indikator dari keindahan.
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia tidak dirniliki oleh makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak atau keinginan pada hewan bersumber dari naluri.




Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itu pun bersifat demikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untukmenciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa “yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “baik”, yang “indah”. Maka “keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan itu manusia  merasakan nyaman hidupnya. Melalui suasana . keindahan itu perasaan “(ke) manusia (annya)” tidak terganggu.
Dengan adanya keinginan-keinginan tersebut, manusia menggunakan nafsunya untuk mendorong hasrat atau keinginan yang dipikirkan atau direnungkan oleh sang akal tadi agar bisa terrealisasikan. Ditambah lagi dengan anugrah yang diberikan-Nya kepada kita (manusia) yakni berupa hati, dimana dengan hati ini manusia dapat merasakan adanya keindahan, oleh karena itu manusia memiliki sensibilitas esthetis.
Selain itu manusia memang secara hakikat membutuhkan keindahan guna kesempurnaan pribadinya. Tanpa estetika manusia tidak akan sempurna, Karena salah satu unsur dari kehidupan adalah estetika. Sedang manusia adalah mahluk hidup, jadi dia sangat memerlukan estetika ini

RENUNGAN
Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori. Teori-teori itu ialah :

·         TEORI PENGUNGKAPAN
Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an expression of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of Expresion and General Linguistic”. Beliau antara lain menyatakan bahwa “art is expression of impressions” (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan) Expression adalah sama dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud sebagai gambaran angan-angan seperti misalnya images wama, garis dan kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan.

·         TEORI METAFISIK
Teori semi yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation theory). Ini sesuai dengan rnetafisika Plato yang mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi itu. Dan karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimemis (timan) dari realita duniawi Sebagai contoh Plato mengemukakan ide Ke-ranjangan yang abadi dan indah sempurna ciptaan Tuhan. Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membuat ranjang dari kayu yang merupakan ide tertinggi ke-ranjangan-an itu. Dan akhirnya seniman meniru ranjang kayu itu dengan menggambarkannya dalam sebuah lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat tempat sebagai warga dari negara Republik yang ideal menurut Plato.



·         TEORI PSIKOLOGIS
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seninya itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori permainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller (1757-1805) dan Herbert Spencer (1820-1903).


·         TEORI KESERASIAN
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian hams dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah, atau disesuaikan dengan kulitnya.


·         TEORI OBYEKTIF DAN TEORI SUBYEKTIF
The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada dua teori yakni teori obyektif dan teori subyektif. Salah satu persoalan pokok dari teori keindahan adalah mengenai sifat dasar dari keindahan. Apakah keindahan menampakan sesuatu yang ada pada benda indah atau hanya terdapat dalam alarn pikiran orang yang mengamati benda tersebut. Dari persoalan-persoalan tersebut lahirlah dua kelompok teori yang terkenal sebagai teori obyektif dan teori subyektif.

Pendukung teori obyektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat, sedang pendukung teori subyektif ialah Henry Home, Earlof Shaffesbury, dan Edmund Burke. Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pengamatan orang hanyalah mengungkapkan sifat-sifat indah yang sudah ada pada sesuatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk menghubungkan. Yang menjadi masalah ialah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau dianggap bernilai estetik, salah satu jawaban yang telah diberikan selama berabad-abad ialah perimbangan antara bagian-bagian dalam benda indah itu. Pendapat lain menyatakan, bahwa nilai estetik itu tercipta dengan terpenuhinya asas-asas tertentu mengenai bentuk pada sesuatu benda.

Teori subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam din seseorang yang mengamati sesuatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Kalaupun dinyatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetik, maka hal itu diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetik sebagai tanggapan terhadap benda indah itu. Yang tergolong teori subyektif ialah yang memandang keindahan dalam suatu hubungan di antara suatu benda dengan alam pikiran seseorang yang mengamatinya seperti misalnya yang berupa menyukai atau menikmati benda itu.

·         TEORI PERIMBANGAN

Teori obyektif memandang keindahan sebagai suatu kualitas dari benda-benda. Kualitas bagaimana yang menyebabkan sesuatu benda disebut indah telah dijawab oleh bangsa Yunani Kuno dengan teori perimbangan yang bertahan sejak abab 5 sebelum Masehi sampai abab 17 di Eropa. Sebagai contoh bangunan arsitektur Yunani Kuno yang berupa banyak tiang besar.

KESERASIAN
Apa itu keserasian? Keserasian adalah perbandingan antar kedua belah sesuatu menjadi sesuatu yang cocok. Anda menaruh vas bunga di atas meja ruang tamu, maka kedua hal tersebut adalah cocok. Anda menaruh palu dan dan kunci di tempat kotak peralatan, menaruh keyboard di depan monitor komputer, meletakkan selimut di atas kasur, itu merupakan bagian dari ke serasian, karena menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Lain halnya jika anda mencoba untuk menaruh palu di depan komputer, meletakkan vas di atas selimut, dan meletakkan selimut di dalam kotak peralatan. Itu merupakan hal yang tidak serasi.
Serasi itu bisa dikatakan bukan hanya sesuatu yang cocok dan wajar, namun sesuatu yang memiliki nilai lebih dari wajar.
Keserasian Berasal dari kata "serasi" artinya cocok atau sesuai, memilki faktor perpaduan dan keseimbangan.
Dalam hubungannya dengan keindahan, keserasian memiliki makna perpaduan antara berbagai unsur yang menjadi satu sehingga menimbulkan satu bentuk keindahan. Sehingga keserasian memiliki hubungan yang erat kaintannya dengan keindahan, tanpa adanya keserasian, keindahan tidak akan terwujud dalam sebuah karya atau benda yang diciptakan manusia dalam tujuan estetika.
Keserasian sangat berhubungan dengan keindahan, sesuatu yang serasi akan tampak indah. Dalam keselarasan seseorang memiliki perasaan seimbang, dan mempunyai cita rasa akan sesuatu yang berakhir dan merasa hidup sesaat ditengah-tengah kesempurnaan yang menyenangkan hati .

Keserasian adalah kecocokan yang mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan kesimbangan, yang terdiri dari:

Teori Objectif dan Teori Subjectif
Teori Objectif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptak nilai estetika adalah sifat (kulitas) yang memang melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya.Pendukung teori objectif adalah Plato, Hegel
Teori Subjectif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri sesorang yang mengamati suatu benda. Pendukung nya adalah Henry Home, Earlof Shaffesburry

Teori Perimbangan dalam arti yang terbatas yakni secara kualitatif yang di ungkapkan dengan angka-angka, keindahan hanyalah kesan yang subjectif sifatnya dan berpendapat bahwa keindahan sesungguhnya tercipta dan tidak ada keteraturan yakni tersusun dari daya hidup, penggembaraan, pelimpahan dan pengungkapan perasaan.

Asas Keserasian

Asas Keserasian mengandung pengertian harmoni dalam interaksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi yang berwawasan lingkungan untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan bermanfaat tinggi.


KASUS
·         TEKNOLOGI MEMBUAT MANUSIA MERUSAK KEINDAHAN ALAM



Greenpeace
Aktivis Greenpeace menyusuri kawasan gundul di dekat Taman Nasional Bukit Tiga, Riau. Tim Mataharimau menyaksikan langsung kerusakan hutan di Indonesia. Greenpeace mendesak pemerintah untuk meninjau konsesi yang ada, melindungi lahan gambut dan mendesak industri untuk menerapkan kebijakan nol deforestasi dalam operasi mereka
TRIBUNNERS - Manusia, merupakan satu-satunya makhluk hidup di muka Bumi yang dianugerahi akal dan kecerdasan oleh Tuhan, oleh karena itu sudah seharusnya menjaga kekayaan alam yang ada di muka Bumi ini.
Dalam semua ajaran agama pun, manusia diajarkan untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan dan keindahan alam.
Namun, beberapa manusia bertindak terlalu cerdas dengan mengeksploitasi kekayaan yang ada di alam secara habis-habisan.
Mereka berpikir bahwa alam telah menyediakan semua yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga mereka pikir tidak salah jika mereka menghabiskan kekayaan yang dimiliki oleh alam sampai tak bersisa.
Apalagi dengan bertambah pesatnya perkembangan teknologi yang ada sekarang ini membuat mereka semakin menjadi-jadi mengeruk kekayaan alam ini.
Salah satu contohnya adalah penebangan hutan yang semakin cepat dikarenakan adanya teknologi berupa gergaji mesin.
Sering juga kita lihat penggunaan alat berat untuk meratakan hutan yang lahannya akan dibuat entah itu untuk jalan raya, perumahan, dan lain sebagainya.
Bahkan, penggunaan teknologi pada kehidupan sehari-hari kita seperti smartphone, laptop, PC, dan lain sebagainya secara tidak langsung ikut berkontribusi terhadap rusaknya alam. Benda-benda tersebut jika sudah tidak terpakai, tentu akan dibuang begitu saja.
Masalahnya, benda-benda tersebut kebanyakan berasal dari bahan yang susah sekali diuraikan, sehingga jika dibiarkan akan menumpuk dan mengurangi keindahan lingkungan di sekitarnya.
Melihat fenomena tersebut, tentu membuat kita bertanya-tanya, apakah dengan adanya teknologi malah membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia?
Tentu saja jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung dari cara kita menggunakannya. Namun, jika melihat kondisi sekarang, perkembangan teknologi malah cenderung memberikan dampak buruk bagi manusia.
Menurut Marshall McLuhan, salah satu dosen di University of Toronto, penemuan atau perkembangan teknologi itulah yang telah mengubah perilaku atau budaya pada manusia, atau yang biasa disebut sebagai Teori Determinisme Teknologi.
Mengacu pada teori tersebut, sudah jelas bahwa teknologi berdampak besar terhadap kehidupan manusia, entah itu baik atau buruk.
Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat, dan teknologi tersebut mengarahkan manusia bergerak dari satu abad teknologi ke teknologi yang lain.
Teknologi memang mampu memberikan kemudahan bagi manusia dalam hampir semua hal, namun melihat perilaku dan budaya masyarakat yang ada sekarang, teknologi memberikan dampak buruk tidak hanya pada manusia sendiri tetapi juga pada lingkungan sekitar.
Salah satu pengaruh penggunaan teknologi yang berpengaruh besar pada kerusakan alam dan lingkungan adalah efek rumah kaca.
Efek rumah kaca merupakan peristiwa yang terjadi akibat pantulan panas di dalam rumah kaca yang digunakan petani untuk menanam sayur pada musim dingin di negara yang mengenal empat musim.
Pembuatan rumah kaca ini menghasilkan gas rumah kaca yang menyelimuti Bumi.
Panas matahari yang masuk ke Bumi dipantulkan kembali oleh rumah kaca, namun karena adanya gas rumah kaca tadi maka panas matahari yang sudah dipantulkan oleh rumah kaca tadi, dipantulkan kembali ke Bumi oleh gas rumah kaca, sehingga menyebabkan panas matahari terperangkap di Bumi dan mengakibatkan suhu Bumi meningkat.
Meningkatnya suhu Bumi menyebabkan orang-orang di Bumi terutama di negara-negara tropis memilih menggunakan AC (Air Conditioner).
Padahal penggunaan AC pun juga berpengaruh pada kerusakan lingkungan, karena AC menghasilkan gas CFC (klorofluorokarbon) yang dapat menyebabkan lubang-lubang pada lapisan ozon.
Emisi CFC yang mencapai stratosfer menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Penggunaan kendaraan bermotor juga berkontribusi besar pada rusaknya lingkungan. Banyak masyarakat terutama di kota-kota besar menggunakan kendaraan pribadi sebagai transportasi.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 terdapat sebanyak 114,2 juta kendaraan bermotor. Jumlah tersebut selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Banyaknya kendaraan pribadi menyebabkan semakin banyaknya polusi yang dihasilkan akibat asap kendaraan bermotor. Padahal banyak dari masyarakat tersebut yang seharusnya tidak atau belum membutuhkan kendaraan pribadi.
Sikap manusia yang terlalu tergantung pada teknologi, malah membawa manusia kepada kehancuran. Walaupun banyak kemudahan yang diberikan dengan teknologi, efek samping yang dihasilkan dari teknologi, terutama terhadap lingkungan tidak bisa dianggap remeh.


Artikel ini telah tayang di 
Tribunnews.com dengan judul Teknologi Membuat Manusia Merusak Alam, http://www.tribunnews.com/tribunners/2016/05/15/teknologi-membuat-manusia-merusak-alam.
Penulis: Muhammad Fauzan Pinantyo
Editor: Samuel Febriant

KEINDAHAN MEMBUAT KETENANGAN


Sungai Gangga (dalam bahasa Inggris disebut “Ganges”) diambil dari nama Dewi umat Hindu yang dipercaya dapat memberikan kesuburan dan membersihkan dosa. Dengan mandi air suci Sungai Gangga ini lah, maka segala dosa dapat terhapus dan manusia dapat terselamatkan. Tak heran, abu jenazah yang telah dikremasi dilarung di sungai ini sebagai penghantar masuk ke surga.
Sungai Gangga sendiri panjangnya 2.525 km mulai dari Himalaya sampai ke Teluk Benggala, kira-kira sama jaraknya dari Banda Aceh ke Jakarta. Meski sungai tersebut banyak melewati kota di India, namun pusatnya terdapat di Varanasi. Kota itu disebut sebagai “Kota Tersuci di India” karena merupakan tempat favorit Dewa Siwa. Ia juga merupakan kota tertua di dunia yang masih ditinggali sejak abad 11 SM sampai saat ini.
MENURUT KELOMPOK KAMI:Keindahan itu dirasakan setiap orang,keindahan terpancar dari sebuah object itu sendiri karena.pancaran tersebut timbul karena keelokan dan rasa nyaman bagi semua yang melihat dan memandangnya..keindahan membuat manusia menjadi lebih merasakan ketenangan dan kepuasan yang luar biasa.

KEBERSAMAAN MENIMBULKAN KEINDAHAN


Kebersamaan (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Oleh: DR A Ilyas Ismail  
Dalam suatu perjalanan, Nabi SAW meminta para sahabat agar memotong kambing. Mereka antusias merespons perintah Nabi. Sebagian mereka berkata, “Aku yang menyembelihnya.”
Sebagian lagi berkata, “Aku yang mengupas (membuka) kulitnya.” Yang lain berkata, “Aku yang memasaknya.” Nabi SAW juga ikut andil. “Aku yang mencari kayu bakarnya.”
Mereka tak ingin Rasul yang amat dicintai ikut bekerja dalam urusan masak-memasak ini. Namun, Nabi menolak, dan tak mau hanya menonton dan duduk manis. “Aku tahu kalian bisa mengerjakan semua ini. Tapi, aku tak ingin menjadi ‘istimewa’ (berbeda) dari kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang menempatkan dirinya ‘berbeda’ daripada saudara-saudaranya yang lain.” (Ithaf Al-Sadat Al-Muttaqin: 7/102).
Kisah ini sungguh menarik dan menggambarkan indahnya suatu kebersamaan. Melalui kisah ini, Rasul ingin mengajarkan kepada kita beberapa hal penting tentang kebersamaan dalam hidup. Pertama, soal pembagian peran dan tanggung jawab (tauzi` al-adwar). Dalam suatu komunitas, setiap orang harus jelas kedudukan dan tanggung jawabnya sehingga ia dapat mengambil peran dan memberikan sumbangan bagi kemajuan bangsa.
Hal yang perlu dihindari ialah jangan sampai ada di antara anggota masyarakat yang tinggal diam, tanpa dukungan dan partisipasi bagi perjuangan umat. Dukungan itu, seperti diterangkan Nabi SAW dalam hadis lain, bisa berupa harta dan kekayaan (material), pemikiran dan gagasan (intelektual), tenaga (fisikal), dan juga doa (spiritual).
Dalam urusan ini, kalau Rasul mau, beliau tak perlu bersusah payah. Tapi, beliau justru mengambil peran dan tanggung jawab paling berat, yaitu mengumpulkan kayu bakar. Ini adalah teladan yang baik bagi para pemimpin. Seorang pemimpin tentu harus berani mengambil tanggung jawab dan pantang baginya membiarkan berbagai persoalan tanpa penyelesaian.
Kedua, soal kesantunan dalam pergaulan (husnul mu`asyarah). Nabi mengajarkan bagaimana cara bergaul yang baik. Salah satu caranya ialah dengan mencintai saudara kita seperti kita mencintai diri kita sendiri. (HR. Bukhari dari Anas Ibn Malik).
Dalam bahasa modern, ajaran Nabi ini dinamakan “Golden Rule” (Hukum Emas) yang menjadi pangkal keadaban. Hukum Emas ini disebutkan, “Berbuat baiklah kamu kepada orang lain, seperti kamu mengharapkan orang lain berbuat baik kepadamu.”
Ketiga, soal semangat kebersamaan (ruh al-jama`ah). Kerjasama dalam satu tim (team work) memerlukan setidak-tidaknya tiga hal. Pertama, niat (commitment) yang tulus untuk bekerjasama dan sama-sama bekerja. Kedua, komunikasi dan ketersambungan (communication). Niat saja, tentu tak cukup. Dalam satu kelompok, setiap orang perlu berkomunikasi satu dengan yang lain. Ketiga, kolaborasi dalam merajut kebersamaan dalam perbedaan sehingga melahirkan keindahan.
Semangat kebersamaan ini dikemukakan Nabi dalam sejumlah hadis, di antaranya, “Orang mukmin terhadap mukmin lain seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa). “Allah memperkuat kebersamaan.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas).
·         KESERASIAN DENGAN PROYEK

Ambon, Tribun-Maluku.com : Pihak Kejaksaan tinggi (Kejati) Maluku mengisyaratkan, tersangka kasus dugaan korupsi proyek dana keserasian di Dinas Sosial Maluku tahun anggaran 2006 senilai Rp35,5 miliar, Andrias Intan, tidak kabur.
“Yang bersangkutan berdasarkan pengembangan penyidikan tidak mengindikasikan kemungkinan kabur dan sebaliknya kooperatif memenuhi panggilan jaksa untuk diperiksa,” kata Kepala Seksi Penerangan, Hukum dan Humas Kejati Maluku, Bobby Palapia, di Ambon, Sabtu (21/2).
Jaksa juga menyeret Yohanis Fransiskus (pendamping desa Poka), pendamping desa Wayame, Abdul Rahman Marasabessy dan pendamping Desa Batu Merah/STAIN Abdul Syukur Kaliki.
Dana keserasian tersebut berjumlah Rp35,5 miliar lebih itu dari pemerintah pusat seharusnya tiap keluarga/kelompok usaha mendapatkan bantuan Rp4 juta. Tetapi, atas kebijakan Venno hanya diberikan masing-masing Rp1,3 juta – Rp1,8 juta setiap orang atau kelompok penerima bantuan.(ant/tm)

ETALASE KEINDAHAN MAHAKARYA HADIR DI BAYUWANGI BATIK VESTIVAL


Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Perhelatan Banyuwangi Batik Festival (BBF) sukses digelar di Gelanggang Seni Budaya, Taman Blambangan, Banyuwangi. Ajang fesyen tahunan yang rutin digelar sejak 2013 itu menjadi etalase keindahan mahakarya batik Banyuwangi.

"Para perajin Banyuwangi dari tahun ke tahun berhasil membuktikan peningkatan kualitas desain dan kain batiknya. Batik Banyuwangi sudah naik kelas dan terkoneksi dengan industri fesyen nasional. Ini tanda cinta kita kepada batik sebagai budaya bangsa sekaligus instrumen ekonomi rakyat," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didepan ribuan penonton yang memadati Gesibu Blambangan, Sabtu (17/11/2018) malam .

Mengusung tema motif 'gedhegan' (anyaman bambu), BBF 2018 menghadirkam kolaborasi 11 desainer dan 15 perajin batik Banyuwangi serta 5 desainer nasional dan internasional.

"Festival ini bukan cuma soal menampilkan batik di panggung, tapi instrumen untuk menggerakkan partisipasi masyarakat, menumbuhkan kewirausahaan batik, dan menggali kreativitas kita semua," paparnya.

Anas mengajak semua mencintai batik Banyuwangi dengan cara konkret, yaitu membelinya.

"Pernah ada riset, belanja pakaian jadi itu mencapai sekitar Rp 2,2 juta atau USD 153 per orang per tahun. Ini peluang bagi perajin batik, dengan populasi Indonesia sebesar 250 juta jiwa. Mulai sekarang mari beli batik lokal," ujar Anas
.
Tangapan tentang kasus batik vestival yang ada di bayuwangi ini membuat suatu penciptaan keindahan untuk membangun bangsa.dari artikel tersebut dapat menimbulkan pemikiran positif dari masyarakat sehingga dapat membuat suatu keindahan karya  yang muncul dari masyarakat luas.keindahan batik ini sangan berdampak positif bagi kita sebagai pelajar untuk terus berkarya tanpa henti.